Label Fashion Menerapkan Rancangan Yang Lebih Baik Lagi

Ada banyak sistem untuk berhasil di industri label fashion, dan bagi sejumlah label dan desainer kenamaan repetisi dalam hal kreativitas ialah salah satunya. Fashion mungkin identik dengan pembaruan, melainkan sekarang atau tepatnya semenjak menjelang era 2000-an, secara kreativitas desainer lebih menyenangi menghadirkan rancangan yang sarat nostalgia. Meskipun demikian itu, desainer senantiasa punya sistem untuk mengemasnya menjadi tampak fresh dan desirable.

Sekarang repetisi bukan lagi dalam situasi sulit ide namun gaya rancang. Tema boleh beda melainkan baju yang ditawarkan konsisten sama, pun hingga ke trik padu-padannya di runway. Kenapa? Bisnis menjadi alasan utama. Laman Business of Fashion dalam tulisannya menuliskan bahwa sekarang regu merchandising juga ikut serta dilibatkan dalam pengembangan koleksi.

Baca Juga : Label Barcode

Apa yang laku keras di musim sebelumnya, masih digemari oleh konsumen sampai sekiranya berkelanjutan bisa menjadi signature baru dari desainer atau label bersangkutan. Contohnya, Chanel identik dengan tweed jacket dan ransel flap mendetail quilted, dan konsumen senantiasa mencari kedua item hal yang demikian di tiap-tiap musimnya. Karenanya tidak heran sekiranya items hal yang demikian senantiasa hadir di runway.

Taktik ini mungkin mendulang berhasil dalam hal bisnis, melainkan dilematis dalam hal kreativitas. Di mata jurnalis dan penikmat fashion, desainer dan label bersangkutan seolah tidak berkembang dan mandek dalam hal pandangan baru. Tetapi di satu sisi, koleksi baju dan aksesori yang dihadirkan terasa relevan bagi konsumen. Dan siapa lagi apabila bukan untuk konsumen tujuan desainer untuk merancang. Sebab sekarang konsumen bukan lagi cuma

Padanan baju hangat dengan rok maxi transparan bersama topi dan rangkaian gaun menerawang dengan sematan bordir menjadi signature gaya baru dari Dior.

Formula gaya dari Maria Grazia Chiuri selaku creative director hal yang demikian tetap timbul di tiap-tiap peragaan koleksi lini siap gunakan. Upayanya membuahkan hasil, di mana pada tahun 2018 Dior mencatat angka penjualan sebesar 5 Miliar Euro.

Alexander McQueen diketahui sebagai label yang senantiasa menghadirkan ‘kejutan’ dalam tiap-tiap peragaannya. Baru, mendetail sampai pentas senantiasa berbeda di tiap-tiap musimnya. Sekarang sejak disupervisi oleh Sarah Burton, yang juga yaitu tangan kanan almarhum McQueen semasa hidup, label ini cenderung menghadirkan gaya yang sama.

Hedi Slimane mungkin menjadi salah satu sosok yang mempopulerkan pola repetisi dalam rancangannya. Semasa mensupervisi Saint Laurent, dia tetap menghadirkan gaya edgy dan seksi via mini dress, biker jacket dan skinny suit yang laku keras dan sukses membikin rumah mode ikonis hal yang demikian kembali untung. Sekarang menangani Celine, Hedi Slimane sukses membikin signature gaya baru yaitu padanan blazer bersama celana kulot dan midi dress dalam motif bergaya retro.

Anthony Vaccarello mungkin sudah berhasil merubah gaya Saint Laurent yang edgy ala Hedi Slimane menjadi lebih glamor dan seductive. Tetapi dia konsisten memakai taktik yang sama yaitu repetisi dalam hal desain dengan sejumlah pembaruan tentunya. Strapless mini dress, baju penghangat bergaya bohemian dan hot pants menjadi sejumlah items yang sering kali timbul di tiap-tiap peragaan Saint Laurent.