Pemerintah Mengajak Pelaku Usaha untuk Memperkuat Industri Logam RI

Pemerintah Mengajak Pelaku Usaha untuk Memperkuat Industri Logam RI

Kementerian Perindustrian bersama pengusaha industri logam setuju menyatukan visi dan misi untuk meningkatkan penguatan struktur industri di dalam negeri, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Hal ini dialamatkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

“Langkah ini pantas dengan perintah bapak presiden dan bapak menteri perindustrian,” ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, Senin (16/1) lalu.

Baca Juga: besi siku

Menurutnya, upaya itu akan mendongkrak daya kerja industri, secara khusus sektor logam, mengingat industri bawaan sektor logam amat banyak. Industri logam terdiri dari pengolahan besi dan baja, non besi, dan baja seperti almunium, tembaga, stainless steel, timah, termasuk logam tanah jarang.

“Penguatan struktur industri nasional dituntun via hilirisasi sebab berakibat positif pada peningkatan poin tambah di dalam negeri,” papar ia.

Upaya ini sekalian menjadi janji Kemenperin dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 seputar Mineral dan Batu Bara serta UU Nomor 3 Tahun 2014 seputar Perindustrian.

“Salahsatu program lanjutan hilirisasi mineral, yakni pengembangan industri terintegrasi dari hulu hingga hilir seperti yang digunakan di Wilayah Industri Morowali dan Konawe yang berbasis smelter,” katanya.

Kemenperin, Putu melanjutkan, terus memberikan dukungan antara lain dalam pemberian insentif fiskal, seperti tax allowance. Kecuali itu, proses pada pelatihan dan pengajaran vokasi industri untuk alih teknologi dan absorpsi daya kerja lokal.

Berikutnya, pemerintah juga menjadikan iklim usaha yang kian kondusif via percepatan pembangunan infrastruktur. Sehingga, ikut mengasah daya kerja industri logam supaya cakap meningkatkan kontribusinya kepada perekonomian Indonesia.

Pada semester I 2016, pertumbuhan industri logam menempuh 9,79 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang menempuh 5,05 persen. “Kontribusi industri terefleksi dari peningkatan poin investasi, lapangan kerja, serta poin ekspor,” jelas ia.

Kemenperin mencatat, sekitar 1.400 industri logam di dalam negeri cakap meresap daya kerja sebanyak 430 ribu orang pada tahun 2015. Sementara itu, sempurna poin investasi menempuh Rp211 triliun dan poin ekspor sebesar US$8,31 miliar.

Di samping itu, Kemenperin bersama pemangku kepentingan berhubungan lainnya juga tengah berusaha untuk memegang impor besi dan baja.  Impor di sektor hilir industri besi dan baja diukur membikin spekulan tumbuh subur.

“Produk besi dan baja amat dimungkinkan untuk ditimbun. Hal itulah yang menjadi kans bagi spekulan untuk melancarkan aksinya,” katanya.

Kalau impor besi dan baja tak dikendalikan dan kian besar, akan berbahaya keberlangsungan industri hulu di dalam negeri. Para pemodal malah ogah untuk berinvestasi di sektor ini sekiranya harga pasar dikontrol oleh para spekulan.

“Bila di hulu tak dapat menyuplai, karenanya industri hilirnya akan lebih banyak mengimpor. Seandainya telah semacam itu, kecuali hulunya tak dapat tumbuh, juga akan membebani neraca perdagangan kita,” sebutnya.

Direktur Industri Logam Kemenperin Doddy Rahadi menyuarakan, pemakaian bahan baku logam dalam negeri akan terus ditingkatkan untuk pemanfaatan secara maksimal di industri hilir. Pemakaian hal ini, Kemenperin konsentrasi pada program Peningkatan Melalui Produk Pemakaian  (P3DN).

Program ini yaitu salah satu upaya pemerintah untuk mendukung masyarakat ataupun badan usaha supaya lebih menerapkan produk dalam negeri.

“ P3DN, bisa diberdayakan industri dalam negeri via pengamanan pasar dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, serta meningkatkan poin tambah produk dalam negeri,” terang Doddy.

Menambahkan, dalam upaya melindungi dan mendukung pertumbuhan industri logam nasional, pemerintah mengerjakan pelegalan SNI harus.

 

Baca Juga: plat bordes