Jika Industri Ini Diperkuat, Maka Indonesia Pasti Akan Maju

Jika Industri Ini Diperkuat, Maka Indonesia Pasti Akan Maju

Kedaulatan industri diukur terkait erat dengan keberadaan sebuah bangsa. Kesuksesan membangun sebuah negara kebangsaan dapat dinilai dari kesuksesan membangun industri. Aktivitas publikasi ilmiah dari peneliti-peneliti Indonesia mengalami kemajuan kencang. Data Institusi Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kurun Januari-November2017 tercatat 1.535 publikasi ilmiah bagus nasional ataupun internasional, dimana 40 persen diantaranya ialah publikasi internasional dengan kwalitas terbaik.

Faktanya berdasarkan Plt Kepala LIPI Bambang Subiyanto, sebetulnya ialah potensi penting bagi Indonesia untuk menapaki jalanan industri. “Diamati dari publikasi ilmiah, Indonesia mempunyai potensi untuk mengoptimalkan teknologi dan industrinya. Tapi ini sebab Indonesia tak tertinggal dalam capaian publikasi ilmiah dan sitasi,” tuturnya di jeda Pembicaraan Panel Serial (DPS) bertema ATHG Dari Dalam Negeri (Iptek dan Industri) yang digelar Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti bekerjasama dengan FKKPI, Sabtu (5/5/2018) lalu.

Baca Juga: wire mesh

Sedangkan publikasi ilmiah meningkat drastis, berdasarkan Bambang, hal hal yang demikian belum cukup sekiranya untuk mencapai jalanan industri. Indonesia perlu memperkuat terus R&D supaya mewujudkan teknologi sendiri.  “Kecuali itu juga memberikan perlindungan atau insentif pada pihak yang memanfaatkan teknologi baru hasil negeri sendiri, dan menyediakan infrastruktur atau sarana untuk menguji teknologi baru, untuk interaksi dan sekalian alih teknologi,” lanjut Bambang.

Berdasarkan Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, Pontjo Sutowo, industri tidak lepas dari pemakaian hasil riset, penemuan dan ilmu pengetahuan. Dimana seluruh itu dimanfaatkan untuk mengelola bahan mentah menjadi barang jadi atau barang separuh jadi, untuk memenuhi keperluan masyarakat.

Di dunia ini, pengembangan industri kian besar selepas terjadinya revolusi industri di dunia Barat  Uniknya revolusi industri terjadi selepas terjadinya revolusi dalam dunia pemikiran dan dunia ilmu pengetahuan dalam abad-abad sebelumnya atau diketahui dengan istilah adab Protestan.

“Norma ini mencakup hemat, kerja keras, disiplin, dan keterbukaan. Norma hal yang demikian kemudian mewujudkan konsep ideologi kapitalisme dan antitesanya merupakan sosialisme dan komunisme,”katanya. Tapi menarik dari kemajuan industri, terbukti kebiasaan keagamaan menjadi salah satu elemen kuat penyokong industri.

Tapi ini digambarkan dengan adanya kemajuan industri China pada tahun-tahun terakhir ini yang terbukti juga mengoptimalkan kombinasi antara adab Konfusian yang ialah sumber skor dasar masyarakat China dengan motivasi kapitalisme dan komunisme dalam wujud baru yang tercerahkan.

“Konsep hal yang demikian kiranya bisa diaplikasikan di Indonesia sebab agama Islam dianut beberapa besar bangsa Indonesia yang berteman dengan dunia perdagangan dan teknologi, sehingga Indonesia bisa menapaki jalan revolusi industrinya seperti China,” lanjut Pontjo.

Awam demikian untuk menapak ke jalan revolusi industri, pembangunan industri yang berkaitan dengan dunia penemuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi ini tak bisa dikerjakan dengan pendekatan sektoral saja. Sebab peran dari dunia usaha, dengan sentuhan keindonesiaan dan mengedepankan skor kebersamaan atau gotong-royong.

Di daerah yang sama, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Ketua Terutamanya Asosiasi Industri Besi dan Baja mengatakan sekiranya revolusi industri secara teknis diawali dari adanya revolusi industri baja. Keperluan itu sekiranya Indonesia berkeinginan masuk ke revolusi industri,  Indonesia perlu mengelola industri bajanya dengan sungguh-sungguh supaya cakap terbangun kedaulatan industri nasionalnya. Terutama, sumber energi mineral bijih besi dan tembaga Indonesia juga melimpah.

Sayangnya pengembangan industri baja di Indonesia belum optimal. Sebagai akhirnya Indonesia menjadi importir baja terbesar ketiga dunia (10,9 juta ton), di bawah EU (11,8 juta ton), dan AS (21,1 juta ton). Sementara itu eksportir baja utama dunia yakni China (94,6 juta  ton), Jepang (34,5 juta ton), Rusia (26,7 juta ton), serta Brazil (11,6 juta ton). Dan sekalipun sebagai importir terbesar ketiga dunia, terbukti keperluan konsumsi baja Indonesia masih yang terendah di Asean.  perkapita baja di Indonesia tahun 2013 cuma 51 kg perkapita, sementara itu Malaysia 336 kg perkapita dan Thailand 258 kg perkapita.

“Kenyataan hal yang demikian menampakkan sekiranya keperluan baja Indonesia sebetulnya betul-betul besar, sehingga industri baja perlu terus disokong dan ditunjang ke depan. Terutama industri baja juga yakni ibu industri sebab berperan penting dalam pembangunan industri nasional dan ialah tenaga Industri nasional,” kata Mas Wigrantoro.

 

Baca Juga: harga besi beton